Saturday, February 7

Just Like The Sky.

Cik Hani | 22:37 | 0Comments |



Rakannya merenung langit dengan pandangan yang sayu. Lalu dengan perlahan, berkata,

" Aku rindu kenangan lama. "

Dia merenung ke langit yang luas. Langit yang membiru. Langit yang tak punya horizon. Semacam itu jugalah peluang dan takdir. Luas dan tak berpenghujung. Selagi kita tak pernah terputus pertalian dengan-Nya. Sejenak dia memikirkan ayat untuk membalas kata-kata rakannya, lalu tersenyum dan berkata,

" Kau layak dapat kenangan baru. "

Rakannya membalas senyum itu dengan tawar dan tanpa emosi. Cuba menghadam falsafah yang dilontarkan. Dia mengerti pandangan rakannya lalu cuba menerangkan,

" Just like the sky, we always attached to Allah. Macam langit. Kat mana je kita ada, langit tetap berada di atas kepala. Macam tu la pertalian kita dengan Allah. DIA selalu bersama kita. Dan seperti langit tu juga, takdir dan peluang itu luas dan sentiasa bersilih ganti. Hari ni hujan, tak semestinya esok akan terus hujan. Mungkin esok, mentari akan bersinar. Manusia juga begitu. Hari ini bersedih dan terluka, tapi esok, mungkin akan muncul bahagia. Asal jangan kita berhenti berharap dan yakin pada perancangan-Nya. "

Rakannya menoleh dan tersenyum. Kali ini sedikit manis.

" Terima kasih. Agaknya aku terlalu mengenang, sebab tu aku tak nampak hikmah di masa depan. "

" Bagus kalau kau sedar. Ciptalah kenangan baru. Jangan mengenang yang dah berlalu. "

" Just like the sky? "

" Yup, just like the sky that’s not always cloudy. Maybe tomorrow, the sun will shine again. Who knew? "

Mereka sama-sama senyap sesudah itu. Menikmati pemandangan yang indah di langit. Maha Suci Allah yang menciptakan keindahan, dan Maha Suci Allah yang sudi meminjamkan ilham untuk berfikir.

" Yup, just like the sky that’s not always cloudy. Maybe tomorrow, the sun will shine again. Who knew? "

No comments:

Post a Comment