Saturday, October 18

Bila Berbicara Soal Kebaikan

Cik Hani | 23:18 | 0Comments |

Kebaikan. Sesuatu yang diimpikan oleh semua manusia. Sekalipun manusia yang jahat, pasti dia juga inginkan kebaikan buat dirinya. Sekalipun manusia itu sering menganiayai manusia lain dan melakukan kejahatan terhadap orang lain, dia tetap tidak suka dan benci orang lain melakukan kejahatan kepada dirinya. Itulah fitrah manusia, inginkan kebaikan. Ingin menjadi baik dan sukakan kebaikan.

Kalau begitu, kenapa masih ramai yang melakukan kejahatan? Menzalimi diri sendiri dan orang lain? Apakah kebaikan itu sendiri sudah dibenci sehingga kejahatan itu diimpi-impikan?

Fitrah manusia itu baik, namun boleh berubah dan bertukar arah tatkala dirinya dibelenggu nafsu, digoda syaitan.
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Bukankah Aku telah perintahkan kamu wahai anak-anak Adam, supaya kamu jangan menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata terhadap kamu!”
[Yaasin: 60]
Syaitan. Makhluk yang paling ingin melihat kehancuran bagi umat manusia. Sejak azali sampai bila-bila. Sampai kita bertemu Tuhan dan sampai kita terjerumus ke dalam neraka bersama-samanya. Saat itu syaitan berlepas diri daripada kita kerana dia juga akan dibelenggu Tuhan. Saat itu kita bakal menyesal dan tidak ada lagi jalan keluar.

Bila berbicara soal kebaikan, semua orang suka, semua orang nak. Tetapi tidak semua orang betul-betul mengimpikan kebaikan itu dalam erti kata yang sebenar. Kebaikan sebenar itu adalah hidup berlandaskan aturan Allah dan Rasulullah.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ . ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (dan berkelengkapan sesuai dengan keadaannya). Kemudian (jika dia panjang umur sehingga tua atau menyalahgunakan kelengkapan itu), Kami kembalikan dia ke serendah-rendah peringkat orang-orang yang rendah. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, maka mereka beroleh pahala yang tidak putus-putus.”
[At-Tiin: 4-6]

Iman. Ada naik dan ada turunnya. Ada saat kita merasa dekat dengan syurga, ada ketika kita merasa paling layak dihumban ke neraka. Saat iman itu memuncak, kebaikan menjadi bunganya. Saat iman itu lebur dengan dunia, kejahatan bertakhta dan manusia menjadi gila, hilang pegangan dan hilang tujuan. Maka tidak ada yang dapat menjadi sebab agar kebaikan itu tersebar ke seluruh pelusuk dunia, melainkan iman. Yang benar dan teguh, yang mantap dan kukuh.

Kalau iman itu menjadi nyawa kepada kehidupan, maka kebaikan akan menjadi buah yang dapat dinikmati bersama. Namun iman itu disertai amal soleh, ada pahala tidak putus-putus yang menanti di penghujungnya.


وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ


“Dan katakanlah (wahai Muhammad): Beramalah kamu (akan segala yang diperintahkan), maka Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan; dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata, kemudian Ia menerangkan kepada kamu apa yang kamu telah kerjakan.”
[At-Taubah: 105]


Kehidupan. Hidup ini tidak akan kembali kepada sebelumnya. Apa yang telah berlaku tidak akan dapat terpadam daripada sejarah kehidupan kita. Kita hanya dapat belajar daripadanya, tanpa dapat mengubah catatan sejarah tersebut. Jika kita pernah terlanjur melakukan kesalahan, kita tidak dapat reverse kembali dan memadamkan kesalahan tersebut. Kita boleh cakap “lupakanlah apa yang telah berlaku”, namun kita tidak akan pernah lupa. Kita hanya belajar untuk tidak mengulanginya. Itulah hebatnya kehidupan yang Allah ciptakan. HIDUP TIDAK BOLEH REVERSE!

Allah memberikan peluang membuat keputusan, kemudian memberikan peluang mengambil pelajaran. Bahkan dengan taubat, Allah akan memadamkan semuanya daripada tulisan. Namun kita sentiasa lupa.

Jadi, apakah kita mahu terus melakukan kesalahan dan kelak menyesal? Atau berfikir sebelum melakukan sesuatu yang tidak akan dapat terpadam daripada sejarah hidup?

Maha Suci Tuhan yang masih memberikan Rahmat dan Nikmat dalam hidup yang penuh dosa dan noda.

Bicara. Ramai orang suka berbicara, tetapi hakikatnya dia sendiri tidak pernah peduli dan tidak pernah berusaha untuk merealisasikan kebaikan. Saat melihat orang melakukan kejahatan, dia bicara lebat, ingin menunjukkan dirinya hebat dan paling baik di dunia. Tapi saat dirinya sendiri terjebak ke dalam kejahatan, kes ditutup, biar saja terpadam. Tidak mahu menerima kritikan dan nasihat orang lain.

Pada satu sudut, ada manusia yang hanya inginkan kebaikan. Pada satu perspektif yang lain,ada segolongan insan terpilih yang maju ke hadapan dan berusaha menyebarkan kebaikan dan memperjuangkannya. Dia sendiri baik, dan dia ingin semua manusia menjadi baik. Dia tidak peduli berapa ramai yang menjadi baik dengan usahanya, namun dia sentiasa merenung setakat mana dia telah bertungkus lumus untuk menyampaikan mesej kebaikan.


Bila berbicara soal kebaikan, ia adalah indah. Namun bila bicara itu dibawa ke dalam kehidupan, ia menjadi mencabar, tidak mudah.


Kesimpulannya, jangan hanya berbicara tentang kebaikan. Bekerjalah untuk menyebar luas kebaikan dan memastikan manusia menjadi baik. Memperjuangkan kebaikan itu bertitik tolak daripada perjuangan iman, untuk Allah dan Rasul, juga demi menentang syaitan, musuh manusia paling nyata.


No comments:

Post a Comment